Sebagai makhluk sosial, orang Sunda telah memapu mengembangkan bermacam-macam agroekosistem yang khas dan unik. Berbagai macam agroekosistem tersebut merupakan hasil adaptasi petani Tatar Sunda, dengan ekosistem lokalnya dan dipengaruhi oleh latar belakang sistem sosial dan kebudayaan setempat.
We are able to manage our land with our folk law
Buku kecil ini merupakan hasil kerja sama antara World Agroforestry Centre (ICRAF), Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN), dan Forest Peoples Programme (FPP). Buku ini didasarkan pada proyek lapangan yang dilaksanakan pada tahun 2001, dengan dana dari BSP-Kemala dan Department for International Development (DFID), untuk mempromosikan lokakarya partisipatif tentang dilema pemerintahan sendiri…
Negara kesatuan mulai dipersoalkan dari banyak segi: efisiensi, efektivitas, keadlinan, economic inequalitiy, Irian Jaya hanya mendapat empat persen, Kalimantan Timur hanya mengkonsumsi satu persen, dan Aceh hanya mengkonsumsi setengah persen dari yang diterima dari pengolahan sumber daya lokal masing-masing
The twelve contributions in Halmahera and Beyond reflect the directions currently being pursued in research on the anthropology. linguistics and history of the island of Halmahera, in the North Moluccas. The essays derive from the Fifth International Workshop on Indonesian Studies at the KITLV in Leiden in 1990, following earlier workshops organized by LIPI in Indonesia between 1978 and 1988. …
When in May 1998 General Suharto eventually resogned, hopes were high that Indonesia would head towards a more democratic future. Have these hopes materialized in any way?
Pelaksanaan desentralisasi, secara konseptual, dapat lebih membuka peluang bagi masyarakat lokal untuk mendapatkan hak-haknya atas sumberdaya alam. Kewenangari yang lebih tinggi yang kini dimiliki pemerintah daerah diharapkan dapat menunjang kebutuhan masyarakat. Namun konsep yang demikian perlu diuji kebenarannya di lapangan. Untuk itulah dilakukan kajian yang dilaksanakan di dua propinsi, yai…
Eksploitasi dan kerusakan hutan telah sampai pada titik kritis, sehingga menarik perhatian berbagai kalangan. Akan tetapi, respons yang kemudian bergema lebih banyak menyoroti masalah lingkungan daripada masalah kemanusiaan yaitu tersingkirnya masyarakat asli (indigenous people) dan masyarakat adat (tribal people) yang tinggal di dalam dan sekitar hutan.
In March 1990, the follower group of the Kasepuhan Ciptarasa in West Java, which dwells in the area surrounding Mount Halimun (Misty Mountain), violated the state law on forestry. The group opened a frontier road from its hamlet to the market area measuring 12 kilometers (km) long and 4 meters (m) wide, and cut 58 wood trees with a volume of 62,400 cubic meters (cu m; Department of Forestry 199…